Di Beranda

Lihatlah, kita telah menua. Garis-garis di wajah mulai terlihat, uban di kepala mulai tak terhitung. Menua dengan tenang di tempat yang kita inginkan jauh bertahun-tahun yang lalu. Di sebuah rumah yang jauh dari ramai perkotaan, tepatnya di sebuah lereng gunung yang diselimuti dengan hawa sejuk setiap harinya. Tak ada pendingin ruangan, tak ada suara bising kipas angin.

Dengan berbagai suasana, suka dan tentunya ada juga duka. Kita telah melewati semuanya. Rumah yang pada awalnya hanya berisi kita berdua, kemudian menjadi ramai dengan tangis dan celotehan bayi mungil kita yang menggemaskan. Anak kecil yang dulu selalu kita timang tumbuh dan berkembang, baik tubuh maupun pemikirannya. Tibalah saatnya dia untuk mencari apa yang dia ingin cari. Memuaskan keingintahuannya melalui pengetahuan yang kelak akan dia dapatkan. Mencari sendiri jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat kita menjawabnya.

Aku merindukannya di setiap waktu, dan pasti sesekali sempat menitikkan air mata. Kemudian kamu akan datang, mencoba menenangkan dan meyakinkan. Tuhan hanyalah menitipkan kepada kita untuk mengantarkannya ke tahap yang kelak akan dijalaninya sendiri. Suatu saat selesailah tugas kita untuk menemani setiap langkahnya, tibalah kita membiarkan kakinya melangkah sendiri dan mengawasinya dari kejauahan.

Tetapi tidaklah semudah itu melepas kepergiannya, aku adalah ibunya. Tubuh kami pernah menjadi satu, sebelum akhirnya Tuhan mengijinkannya melihat dan merasakan dunia luar dengan indranya sendiri. Kepergiannya membuatku rindu, bercampur dengan kecemasan akan keselamatan dan kesehatannya. Hanya saja aku tak bisa menjadi egois dengan cara menahannya pergi. Dia berhak memilih atas hidupnya, berhak memijakkan kaki dan menapaki kehidupan yang luas ini. Tidak meringkuk dan terkurung dalam ruang tersekat yang diciptakan oleh orang tuanya sendiri.

Aku teringat ketika dulu marah-marah dengan kondisi kamarnya yang jarang tertata rapi. Kini kamarnya begitu rapi, namun sepi tak berpenghuni. Rumah pun begitu sunyi, tidak ada teriakanku yang berulang kali memintanya sembahyang, makan, ataupun mandi. Tidak ada rengekannya meminta dibuatkan kue untuk menemaninya belajar, tidak ada rengekannya meminta secangkir kopi untuk menemaninya membaca buku, atau rengekannya untuk sekadar meminta ditemani begadang menonton acara kesukaannya ketika aku ingin mengistirahatkan tubuh.

Sekarang tidak ada yang perlu kita risaukan. Doakan saja ia selalu selamat dan kuat dalam melangkah menapaki jalan yang ditentukannya sendiri. Pada waktunya nanti, kita berdua akan menua dengan perasaan bangga dan berbahagia dengan apa yang telah dicapainya dengan tangannya sendiri.

Tetap saja kamu perlu terus menerus mengingatkanku untuk menjaga tenang, duduk bersantai di beranda rumah tanpa diliputi oleh pikiran macam-macam. Tidak cuma kita, orang tuanya yang rindu, anak kita pun pastinya juga merasakan hal yang sama. Entah itu kapan, kelak dia akan pulang dan tangannya membuka pagar rumah. Entah itu di kala senja, malam yang gelap ataupun pagi buta. Dan kita menyambut kepulangannya dengan peluk hangat serta perasaan yang gembira, di beranda.

Banjarnegara, 17 Maret 2017

Ditulis setelah mendengarkan lagu dari Banda Neira dengan judul yang sama, Di Beranda.

Iklan

Perihal Rindu

‚ÄčHai, apa kabar?

Sudah lama aku tidak menyapamu, menyampaikan rindu kepadamu melalui aksara ataupun suara. Jadi bagaimana dengan rindumu? Semoga obrolan denganmu perihal rindu ini bukanlah hal yang sia-sia.

 

Hari ini aku menitipkan rinduku kepada gumpalan-gumpalan awan yang sedang menutupi birunya langit di pagi hari, semoga hangatnya sinar mentari menyampaikannya. Kau menerimanya kan? Oh iya, kurasa aku salah menitipkan rinduku. Seharusnya aku menitipkannya kepada senja yang selalu kau nanti kehadirannya. Tapi bagaimana aku menitipkannya? Sejak kita berjarak, aku tak pernah melihat senja, senjaku kini abu-abu.

 

Sebenarnya merindukanmu adalah salah satu hal yang aku benci. Ada dua hal yang benar-benar aku benci, yaitu rindu dan jarak. Sekarang aku sedang merindukanmu yang sedang berada pada jarak ratusan kilometer dari aku. Lihat, sekarang kau tahu bukan? Aku sedang menghadapi dua hal yang ku benci sekaligus dalam satu waktu.

 

Dengan merindukanmu setiap hari, semoga waktu dapat mengaburkan rasa, menghempaskannya ke angkasa hingga aku menjadi terbiasa. Ah, sebenarnya aku tak sepenuhnya berharap begitu.

 

Berbicara tentang rindu dan jarak, aku percaya suatu saat nanti aku, kau, dan Tuhan bersama-sama akan melipat jarak hingga mempertemukan rindu dan tawa pada ruang dan waktu yang sama.

 

KA KALIJAGA, 14/7/2016

Dalam perjalanan pulang

Candu dan Rindu yang Tak Berujung Temu

Menaruh harapan kepadamu adalah salah satu bentuk dari bunuh diri.

Dan rupanya aku telah berkali-kali membunuh diriku sendiri.

Kenangan tentangmu serupa belati.

Dengannya aku berkali-kali menoreh luka di hati.

Hujan turun, rintiknya menyampaikan berita tentang jingga yang tak akan menampakkan muka hari ini.

Diingatkannya juga kepadaku tentang rindu yang tak pernah bisa berujung temu.

Di hari itu resahku mengutuk, menyalahkah rindu yang mulai menumpuk.

Rindu yang senantiasa tumbuh bagai benalu, menciptakan pilu.

Kau tak pernah lagi mengaku rindu.

Hatimu sudah beku?

Tak lagi dirimu mengharap temu?

Tak sudi lagi kau menatap sepasang mataku?

Tak ingin lagi sepasang kakimu berjalan beriringan dengan langkah kakiku?

Tak mau lagi tanganmu menggenggam tanganku?

Sudahlah.

Aku akan berhenti mencanduimu.

Semarang, 18 November 2016